Sabtu, 19 Juli 2014

Langit jingga itu serasa menghangatkan perpisahan dengan keluarga kami yang mendoakan di rumah dan yang mengantarkan kami ke bandara udara Soekarno-Hatta. Kami, tim dari Palabsky atau sering disebut Pecinta Alam SMA Labschool Kebayoran akan melaksanakan kegiatan eskplorasi di kawasan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Kami menyelesaikan segala urusan di bandara, kami pun segera menuju gate F6 untuk menunggu pesawat kami siap. Pukul 20:30 pesawat Garuda Indonesia penerbangan GA 4026 kami pun take off, dengan tujuan akhir kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, tempat kami akan melakukan eksplorasi tahun ini. Di Pulau Flores kami mengunjungi beberapa objek wisata seperti Gunung Kelimutu, Dusun Wae Rebo, dan Kepulauan Komodo.
Gunung Kelimutu
Mentari belum menampakkan dirinya tetapi kami sudah mempersiapkan diri, kondisi masih gelap, udara dingin menusuk tulang, tak mematahkan semangat kami berangkat menuju kaki Gunung Kelimutu.Daya tarik gunung ini adalah keberadaaan Danau Kelimutu atau sering disebut Danau Tiga Warna. Warna danau ini bisa berubah-ubah seiring waktu dikarenakan fluktuasi kandungan mineral dalam danau tersebut.Perjalanan mendaki Gunung Kelimutu ini medannya tidak terlalu sulit, dan sudah terdapat beberapa fasilitas yang dapat membantu kita sampai ke puncak. Sedikit lelah, tetapi kami berhasil sampai puncak sebelum matahari terbit, tetapi yag kami lihat hanyalah selimut kabut tebal. Akhirnya matahari menampakkan dirinya dan mulai menghilangkan kabut tebal yang menyelimuti arah pandang kami. Danau kelimutu yang berwarna kehijauan mulai menampakkan pesonanya, dengan udara dingin khas pegunungan membuat suasana menjadi sangat indah dan berkesan.
Dusun Wae Rebo



REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Afriza Hanifa
Seorang pemuda tengah mengitari api. Ia menjaganya setiap waktu sepanjang hari agar api itu tak padam. Ia merupakan putra sang kepala daerah Ishafan, sebuah kawasan di Persia.
Bagi masyarakat setempat, petugas penjaga api ibarat budak Tuhan karena mereka merupakan umat Majusi, para penyembah api.  
Sang kepala daerah pun sangat mencintai anaknya hingga menugaskannya peran yang dianggap mulia tersebut. Pemuda itu juga merupakan putra kesayangannya hingga tak diizinkan keluar rumah, apalagi pergi jauh dari perapian.

Suatu hari, sang ayah didera kesibukan yang sangat. Sebagai pemimpin daerah sekaligus petani, ayah si pemuda tak sempat mengurus lahannya. Maka ditugaskanlah si pemuda untuk mengurus lahan.

Si pemuda pun menurut dan kemudian segera menuju lahan. Inilah kali pertama ia keluar rumah. Di tengah perjalanan, ia melewati sebuah gereja Nasrani yang tengah menjalankan ritual ibadah. Ia tertarik, memasukinya, kemudian terkagum dengan ajaran Nabi Isa yang disampaikan sang imam gereja.

Ia pun kemudian bertanya pada gerejawan, "Dari mana asal usul agama ini?" Mereka pun menjawab, "Dari Syam (sekarang kawasan Suriah, Palestina, dan Yordania)". Sang pemuda pun penasaran, "Jika rombongan dari Syam beragama Nasrani datang ke sini untuk berdagang, dapatkah kalian mengabarkanku?" pinta si pemuda yang kemudian disambut suka cita oleh mereka. Si pemuda pun kemudian menghabiskan waktu di gereja itu hingga senja. Tugas mengurus lahan terlupakan begitu saja.


Rakyat Indonesia pasti tidak akan lupa bahwa 9 April 2014 yang lalu adalah salah satu tanggal bersejarah, dikarenakan seluruh rakyat Indonesia menggunakan hak pilihnya di pemilu legislatif, memilih wakil rakyat yang pantas untuk melanjutkan kepemimpinan negeri ini. Tapi bagi saya, 9 April yang lalu adalah waktunya berkelana ke salah satu pantai indah di Malang Selatan, yaitu Pantai Goa Cina. Saya sebenarnya sedih nggak bisa memberikan suara di pemilu tersebut, dikarenakan KTP saya adalah keluaran Jawa Tengah, dan saat ini saya berdomisili di Jawa Timur. Sangat disayangkan saya nggak ngerti bahwa pencoblosan tetap dapat dilakukan asal sudah memiliki surat dari kelurahan tempat saya tinggal di Jawa Tengah. Tapi saya berjanji bahwa pemilu presiden nanti, ada tinta warna ungu di jari kelingking saya! :mrgreen:
Lupakan sejenak tentang pemilu, saya pengen cerita sedikit tentang perjalanan saya menuju pantai Goa Cina. Sebenarnya nggak ada niatan pergi ke sana. Tapi berkat perjuangan keras teman-teman saya merayu & penjemputan mendadak, saya nggak tega kalau harus nolak mereka  :P.
Kami berangkat pk. 11.00 WIB, dan ternyata perjalanan menuju Pantai Goa Cina cukup panjang! Total perjalanan menuju lokasi kami tempuh selama 5 jam perjalanan, dengan estimasi 1 jam makan siang, jadi sekitar 4 jam. Jalur menuju lokasi beneran membuat pusing dan capek. Kita akan melewati beberapa bukit, dan yang namanya bukit selalu berkelok-kelok, dengan bonus beberapa kelokan tajam  o_O.
Sebelum berangkat isilah bahan bakar full tank terlebih dahulu kendaraan yang kita pakai. Sepanjang jalan kelokan, nggak ada yang namanya bertemu dengan pom bensin. Jalur menuju ke lokasi, ternyata searah dengan beberapa pantai indah di Malang Selatan. Salah satunya adalah Sendang Biru di kawasan Sempu atau Bajul Mati. Jangan kuatir nyasar karena begitu dekat dengan lokasi kita akan menemukan papan penunjuk yang bertuliskan “Goa Cina”. Kalau masih ragu, mending jangan sungkan untuk bertanya ke penduduk sekitar. Malas bertanya, sesat di jalan!  :twisted:
Penanda jalan terakhir sebelum masuk kawasan Goa Cina.
Penanda jalan terakhir sebelum masuk kawasan Goa Cina.


 source

Sebelum saya menyadari bahwa traveling & adventure ternyata begitu menyenangkan, mungkin Gunung Bromo adalah salah sekian dari pilihan tempat wisata. Saya pikir tempatnya menyeramkan. Tapi ternyata nggak se-seram yang saya bayangkan.
31 Agustus 2012, akhirnya terkumpul sekitar 20 orang untuk berangkat ke Bromo. 2 mobil, 1 ELF dan 1 Avanza, akhirnya kami berangkat pk 00.00 dari Surabaya menuju Probolinggo. Perjalanan sekitar 3 jam. Di tengah2 perjalanan, saya sempat terbangun dan melihat pemandangan menuju Bromo di subuh hari sungguh sangatlah WOW!!! Meskipun gelap, tapi di depan saya sang rembulan terasa sangat dekat, ditemani dengan ribuan bintang mengelilingi. Pemandangan seperti itu nggak mungkin bisa didapatkan di kota. Haha :D
Pk 03.00 subuh, kami sampai di pos parkir dan kami harus menyewa hartop kalo mau sampe di Penanjakan dan melihat matahari terbit. 1 hartop kala itu seharga IDR 450k, dibagi sekitar 6-7 orang. Jadi masih termasuk oke lah buat kocek anak kos2an. Berdesak-desakan di atas hartop dan saya bersyukur kalo salah satu teman saya yang awalnya ngotot minta jalan kaki, nggak kami turutin :P
Pemandangan subuh hari seperti itu tidak banyak yang terlihat, tapi sewaktu hartop kami melewati padang pasir, itu beneran keren! Serasa seperti di National Geographic waktu berburu binatang liar di Afrika! Haha :D Saya pikir sebagai pemula yang belum pernah ke Bromo, kami akan langsung dibawa menuju Gunung Bromo, tapi ternyata kami dibawa ke suatu tempat bernama Penanjakan. Di sana dingiiiiiiiinnnnnn bangeeeetttttt…. Saya beruntung pinjam ke teman saya sarung tangan dan topi wol yang lumayan tebal. Gitu aja udah bikin saya diam, cari tempat duduk dan ndusel2. Keinginan saya buat hunting foto bintang, sirna sudah semuanya! Hahaha :D Just info, bintang dari Penanjakan hebat banget! Itu bener2 lautan bintang 8-O Ga heran kalo Abraham dijanjikan bahwa keturunannya akan seperti bintang di langit! Memang banyaknya kayak gitu ternyata. Haha :mrgreen:

Ini bintangnya :D

Dinginnya di Penanjakan :D
Menjelang pagi hari, sekitar pk 05.00, matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Pelan2 tapi pasti, langit mulai cerah & tangan saya mulai gatal untuk hunting foto. Suhu juga sudah tidak sedingin ketika subuh. Sayangnya di Penanjakan yang memang ramai dengan turis, begitu matahari mulai muncul, semua pada berebut foto. Sekali lagi, kalo mau dapet gambar mangstab, pakailah wide lens untuk landscape & kalo Tuhan berkenan, bawalah si gelang merah, L series untuk mengurangi noise. 18-200mm sangat terbatas, apalagi ditambah kerumunan orang. Tapi tetap bersyukur bisa dapat gambar2 dokumentasi di sana :) Kalo ditanya tentang sunrise-nya, saya nggak terlalu tertarik. Menurut saya pribadi, masih bagusan bintang2 di langit daripada sunrise-nya :P
Tips : Jangan berlama2 melihat sunrise, segeralah ke arah selatan, karena di sana kita bisa melihat aktor dari perjalanan ini, yaitu Gunung Bromo! Yang punya kamera bagus, segeralah cari posisi yang pas, siapin kamera & cari komposisi yang bagus untuk memotret Gunung Bromo dari jauh. Kalo beruntung, kita bakal dapat latar belakang Gunung Semeru. Kalo pas beruntung lagi, pas Gunung Semeru sedang aktif, bisa dapat posisi pas asap kawahnya lagi keluar.
Kira2 gini nih yang saya maksud 8) - pic courtesy of http://visit-in-indonesia.blogspot.com/2011/05/mount-bromo.html
Kira2 gini nih yang saya maksud 8) – pic courtesy of http://visit-in-indonesia.blogspot.com/2011/05/mount-bromo.html

Ini 1 team yang berangkat :)

Nih kira2 pemandangan ramainya Penanjakan pas sunrise

Narsis adalah sebagian dari kewajiban hidup!

Karena kewajiban, maka harus sering2 8-)
Pk 06.00 kami harus segera kembali ke hartop karena kami akan segera menuju ke lokasi, Gunung Bromo!!! Perjalanan menuju ke Gunung Bromo tidak lama, paling hanya 10 menit. Kali ini kami baru bisa melihat sekeliling kami. Pemandangannya tidak terlalu mengesankan, karena pohon2 yang ada kebanyakan sudah kering & debu di mana-mana. Yang keren itu pas kami nglewatin padang pasir yang sangat luas untuk sampai di kaki gunung Bromo. Itu kerasa bener adventure-nya! Haha :D

Turun dari Penanjakan & bersiap menuju Gunung Bromo-nya!